Rabu, 16 Januari 2013

Jakarta & Singapura (banjir)

Jakarta dan Singapura merupakan sama-sama ibukota sebuah negara. Jakarta merupakan ibukota negara Indonesia dan Singapura adalah ibukota negara Singapura yang wilayahnya berbatasan langsung dengan Malaysia.

Indonesia merdeka tahun 1945, sedangkan Singapura pada tahun  1965 (kalau tidak salah hehe), itu adalah salah satu pembeda ke dua negara tersebut dari sekian banyak hal yang berbeda yang ada antara dua negara yang berada di kawasan Asia Tenggara tersebut. Lalu bagaimana dengan perbedaan kedua ibukotanya?
Karena sekarang sedang musim hujan dan di negara saya Identik dengan banjir, bagaimana jika dikesempatan kali ini kita membahas tentang banjir?

Oke kita awali dengan Singapura, om saya yang tinggal di Singapura pernah bercerita pada saya, tentang kejadian tahun  2011 di Orchard Road Singapura, saat itu jalanan disana banjir, mungkin sistem drainasenya yang kuang bagus, namun setalah diperbaiki banjir tak pernah ada lagi, ketika itu om saya bercerita saat di Indonesia didalam mobil, kondisi Bogor saat itu hujan deras, gelap karena lampu jalan sebagian tak menyala dan jalanan tergenang air, mungkin kondisi saat itu jauh berbeda dengan kota dimana om saya tinggal dan bekerja.

Bagaimana dengan Jakarta?

Jakarta setiap tahun dimusim hujan selalu banjir, itu yang saya dapatkan dari media, yaa..., saya sendiri jarang ke Jakarta, tapi saya dapat informasinya demikian. Seperti sekarang ini saat Bogor hujan hebat dan katulampa tidak dapat menampung debit air yang berlebih, pasti jakarta akan banjir yang disebut banjir kiriman Bogor.

Hmmm...., Ada apa ya dengan Indonesia? Singapura saja mampu mengatasi permasalahan yang mereka hadapi sehingga tidak terjadi lagi di tahun berikutnya. Ya semoga saja pemerintahan sekarang mampu bekerja lebih nyata, benar-benar melakukan perbaikan semisalnya banjir di Jakarta akan terus terulang di musim penghujan atau tak ada lagi banjir seperti di Singapura. Kita lihat saja....

Senin, 14 Januari 2013

Sepeda Motor Pak Guru dengan Elpiji



Temen-temen ada yang pernah denger tentang kendaraan dengan bahan bakar selain premiun? Misal dengan listrik, nuklir, cahaya matahari dan lain sebagainya. Nah di Sumedang ada seorang guru fisika SMA yang menciptakan atau lebih tepatnya memodifikasi sepeda motornya dengan bahan bakar gas. Iya, dengan bahan bakar gas ukuran 3 kilogram yang biasa dipakai memasak didapur.

Cece Wawan (34), adalah guru Fisika di SMA Negeri 1 Sumedang, Jawa Barat yang mengenalkannya pada masyarakat. Idenya sudah setahun yang lalu, tapi baru sekitar dua bulanan ini benar-benar dikerjakan, dan terhitung Januari ini sudah dua minggu sepeda notor kesayangannya itu masih bisa jalan tanpa mengganti tabung gas, jika dengan premium empat harian udah harus diisi, papar Cece.

Cece dibantu temannya yang bekerja di bengkel mencoba membuat converter, dengan mulai dari membuat karbulator bekas hingga mencoba yang dari besi. Setelah beberapa kali percobaan, akhirnya sepeda motor dengan menggunakan gas elpiji itu bisa juga digunakan seperti sepeda motor pada umumnya, dan jelas irit karena dengan jarak tempuh 70 km dan sekitar dua minggu Cece belum juga mengganti tabung gas elpiji tersebut.

Secara mengirit bahan bakar dan dompet, memang dengan menggunakan gas elpiji 3 kg terbukti hemat. Namun, masih banyak kelemahan dari sepeda motor tersebut, dari sedi tampilan yang kurang menarik juga dari segi keselamatan bagi pengendara dan orang lain yang dekat dengan pengendara, karena tabung gas bisa saja bocor dan meledak yang tentunya membahayakan. 

sepeda motor menggunakan bahan bakar gas
Andai saja pemerintah mau me-alokasikan dana untuk penemuan-penemuan semacam ini, mungkin negara kita bisa menjadi negara yang cukup creative dan bisa diperhitungkan dengan negara-negara seperti Japan, Amerika Serikat, Jerman dan lain sebagainya. Sayangnya Pemerintah kita lebih suka menggunakan uang negara untuk keperluan kunjungan keluar negeri. Haha…